Senin, 26 Maret 2012

Mendulang 'Emas' dari Kulit Kodok

Sudah bukan rahasia lagi kalau produk-produk fesyen selalu laris manis, dan produk-produk seperti ini sangat lekat dengan tren mode yang berkembang cepat. Tak pelak, bisnis di bidang ini tak ubahnya seperti tambang emas, terutama bagi pebisnis yang memilliki kreativitas dan peka terhadap peluang tren yang cepat berganti. Salah satunya adalah produk tas dan dompet dari kulit binatang. Tapi, tahukah Anda kulit binatang apa yang jadi bahan baku penampung kocek Anda selama ini?

Beberapa kulit binatang yang selama ini sering dipakai, seperti kulit ular, buaya, dan sapi. Namun, masih jarang yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk. Salah satu produsen yang menggunakan kulit kodok sebagai bahan baku produk adalah Cadusa, The Indonesiaz Exotic Leather dari Yogyakarta. Pemilik usaha ini, Ditto Wahyutomo bilang, pembuatan produk fesyen berbahan kulit kodok masih tergolong baru. "Kulit kodok ini saya pakai sebagai bahan pembuatan tas dan dompet," jelasnya.

Karena pemakaian kulit kodok masih jarang, ia mengklaim, produk tas dan dompetnya berbeda dari yang lain. "Setidaknya itu menjadi ciri khas produk saya," ujarnya. Menurut Ditto, pemanfaatan kulit kodok sebagai bahan pembuatan tas dan dompet tidak gampang. Perlu keahlian khusus dalam mengolah kulit kodok sehingga menarik dan memiliki kesan eksotis. "Selain itu pasokan kodoknya juga sulit diperoleh," ujarnya.
Selama ini, ia mendapat pasokan kodok dari Papua dan Kalimantan. Ditto mengaku telah memulai usaha ini sejak tahun 2005. Nah, peluang emas bagi yang ingin menjadi pemasok !

Selain kulit kodok, ia juga menggunakan kulit binatang lain sebagai bahan baku, seperti kulit buaya dan kambing. Selain tas dan dompet, ia juga memproduksi jaket dan sepatu wanita.

Aneka produk fesyen yang dihasilkannya itu dibanderol mulai dari Rp 250.000 - Rp 10 juta per buah. Ditto mengaku bisa meraup omzet rata-rata hingga Rp 50 juta per bulan.
Namun, jika sedang ada pameran, omzetnya bisa mencapai Rp 70 juta. Biasanya, Ditto mengikuti pameran sebanyak tiga kali dalam setahun.

Pelanggannya berasal dari beberapa daerah di Indonesia, seperti Jakarta, Yogyakarta, Palembang, Bengkulu, dan Makassar. Ia bilang, bisnis kerajinan dari kulit binatang ini prospeknya bagus.

Martini, pemilik Bagpose dari Bandung, Jawa Barat mengamini, permintaan kerajinan tas atau dompet cukup tinggi. Martini sendiri fokus memproduksi tas dan dompet yang terbuat dari kulit sapi.

Ia membanderol tas buatannya mulai dari harga Rp 300.000 hingga Rp 800.000 per buah. Sementara dompet dibanderol mulai Rp 100.000 smapai Rp 300.000 per buah.
"Pelanggan terbesar saya banyak datang dari Jakarta," kata Martini.

sumber: kontan.co.id