Jumat, 02 April 2010

Bagaimana Jika Telanjur Dibohongi?

Pada postingan yang lalu tentang kebohongan, berkaitan dengan bagaimana mendeteksi sinyal-sinyal kebohongan dari karakter seseorang, gunanya untuk mencekal (cegah dan tangkal) agar kita tidak terjebak dengan kebohongannya. Ini tentu saja berharap kebohongan pada kita tidak benar-benar terjadi, atau setidaknya kita mampu menghindari dari sasaran pembohongan (bukan menghindari orangnya). Lalu bagaimana kalau kita sudah telanjur dibohongi? Sepertinya semua orang pasti pernah dibohongi, bagaimana rasanya? Kecewa, jengkel, sakit hati, patah hati, dendam? Perasaan-perasaan seperti itu dijamin seratus persen akan menimbulkan masalah psikis dan klinis buat kita. Bukankah akan menimbulkan masalah baru? Oleh karena itu, sangat dianjurkan: buang jauh-jauh perasaan itu!
Ambil contoh, misalnya kita sudah telanjur sayang pada seseorang, segala perhatian, materil dan non materil sudah tercurah padanya. Ternyata di kemudian hari ditemukan fakta dan bukti-bukti bahwa yang bersangkutan telah berkhianat, atau terjadi pembohongan besar pada kita. Bagaimana sikap kita? Nah, berikut ini beberapa tips menghadapi masalah ini.
1.    Anda  wajib membaca dulu artikel perahu kokoh itu adalah anda,
2.   Tindakan pertama adalah anda perlu menyatakan sikap “mengapa saya merasakan telah ada kebohongan besar di antara kita?” hal ini bisa disampaikan secara lisan, tentu dengan cara yang mantap dan terkendali (ingat, kendalikan emosi). Jika tidak bisa dengan pernyataan lisan, lakukan gerakan tutup mulut (tapi, jangan mogok makan) dan coba menghindar beberapa saat, sekadar untuk memancing respon ‘ada sesuatu’ di antara kita.
3.   Dengan semangat ‘asas praduga tak bersalah’ (perlu dilakukan, jangan-jangan salah mengambil bukti atau melihat fakta), dengarkan respon yang bersangkutan, mintalah penjelasan sedetil mungkin, mengapa saya dibohongi?
4.  Bertanyalah sebanyak-banyaknya untuk mengungkap seluas-luasnya apa yang sudah terjadi. Baru kemudian simpulkan dan putuskan apakah masalah itu berdampak besar bagi kelanjutan hubungan anda dengan si dia (andalah yang paling tahu dampak tersebut).
5.   Sekarang berkompromilah dengan ‘aku’ yang ada di dalam diri anda. Jelaskan pada si ‘aku’ bahwa anda harus bersyukur telah mengetahui keadaan yang sebenarnya yang terjadi dalam hubungan anda dengan si dia, justeru di saat sekarang. Bayangkan seandainya hal ini terungkap setelah beberapa tahun kemudian, setelah segalanya dibangun di antara hubungan itu, setelah lebih banyak pencurahan “everything is I do for you” dilakukan. Bukankah lebih parah dari keadaan yang sekarang?
6.       Jangan sesali apa yang sudah terjadi. Anda tidak salah menyayanginya, juga tidak salah telah mencurahkan segalanya. Menyayangi seseorang adalah anugerah Tuhan. Oleh karena itu janganlah mulai berhitung dengan apa yang sudah pernah ‘dikorbankan’, kecuali bila memang selama ini anda hanya berpura-pura sayang saja padanya (lho, bukankah ini juga kebohongan besar?). Oleh karenanya, sebelum ‘menghakimi’ si dia, pastikan bahwa diri anda sendiri memang berhak mendapatkan orang baik dan jujur!
7.  Tunjukkan bahwa anda memiliki ‘kekuatan’ dalam menghadapi masalah ini pada si dia. Hal ini sekaligus menunjukkan padanya bahwa si dia telah memperoleh kerugian besar telah mensia-siakan kepercayaan orang sebaik anda.
8.   Yakinkan si ‘aku’ dalam diri anda, bahwa ia masih akan bertemu dengan orang-orang baik hati dan jujur, di luar sana, dan tinggal memilih untuk dijadikan tempat curahan hati yang jujur dan baik ini.
Salam sukses dan bahagia, ada yang ingin menambahkan?
Foto by: Ihsan Sera

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.