Senin, 05 April 2010

....Narsiskah Anda?

Sobat, saya mau berbagi sedikit tentang istilah ‘narsis’ yang sering kita dengar bahkan mungkin gunakan sehari-hari. Jujur saja pada mulanya saya juga penasaran tentang istilah itu apa sih makna sebenarnya. Setelah baca sana-sini, akhirnya saya dapat kesimpulan. Ternyata yang dimaksud dengan narsis itu tidak lain perasaan mencintai diri sendiri.

Konon kata narsis didapatkan dari legenda Yunani, yang tidak lain dari seseorang yang bernama Narcisuss yang jatuh cinta pada bayangan dirinya ketika terpantul di permukaan sebuah danau. Nah, lalu kata narsis dipakai untuk menyebut orang yang terlalu kagum, bangga, dan memuja diri sendiri, kadang istilah narsis juga populer diplesetkan sebagai tindakan orang-orang yang rajin berfoto-foto.

Jika kita sudah tahu makna narsis itu sebagai kecintaan pada diri sendiri, lalu baikkah orang yang ‘mengidap’ narsis ?

Untuk menjawab pertanyaan di atas, mari kita lihat sisi lain. Kita sering menemukan orang (atau jangan-jangan kita sendiri?) yang selalu merasa rendah diri, lemah, terpinggirkan, tidak diterima, tidak dihargai, bahkan tidak dicintai, dan sepertinya tidak orang yang mau menolong dirinya? Khusus yang terakhir, akan saya ulas di lain waktu.

Mengapa seseorang merasa rendah diri? Jika anda seorang yang memiliki keimanan yang kuat, agama sangat menjamin anda untuk tidak perlu merasa rendah diri. Bukankah manusia diciptakan dengan segenap kemuliaan, bahkan malaikat saja diperintahkan oleh Allah untuk bersujud pada Adam, manusia pertama. Yang tidak mau bersujud (iblis) pada Adam diusir oleh Allah dari surga, karena menolak perintah itu.

Oke, saya tidak mau berpanjang-panjang membahas dari sisi agama, karena sudah banyak ustad dan ustadzah yang berkompeten menjelaskan itu. Saya ingin kita melihatnya dari kacamata umum, orang biasa yang mencoba mengungkap makna kehidupan ini secara sederhana.

Kita sering terjebak pada ukuran-ukuran atau standar materi yang dimiliki orang lain, prestasi orang lain, kebanggaan pada pribadi orang lain yang kita kagumi, tetapi kita tidak bisa menjangkau standar itu, bahkan terasa jauh jaraknya seperti antara langit dan bumi. Akibatnya, kita tidak lagi melihat yang kita miliki, yang sebenarnya dapat dibanggakan, dihargai dan patut dicintai. Perasaan rendah diri tidak jarang diiringi juga dengan penyesalan terhadap diri yang tidak sesuai dengan standar yang sudah kita ciptakan. Akibatnya terjadi ‘penghukuman’ diri berkepanjangan. Padahal, ingat cerita saya tentang perahu kokoh itu adalah anda, sehebat apapun diri kita sebenarnya, penghukuman ini menyebabkan kita tertambat, tidak maju-maju.

Jika demikian, ada baiknya kita bercermin pada diri kita yang sebenarnya, melepaskan diri dari ukuran-standar orang lain, lalu mulai membuat standar sendiri, melihat kembali kepada potensi yang dimiliki, yang belum tentu dimiliki orang lain. Dengan demikian kita menumbuhkan kebanggaan diri, rasa mencintai diri sendiri. Bagaimana orang lain bisa menerima kita, jika kita sendiri menolak atau meragukan diri sendiri, bagaimana mungkin orang lain bisa mencintai kita, jika kita tidak memiliki rasa cinta pada diri sendiri?

Nah, jika itu kesimpulannya, maka narsis, adalah baik buat kita. Dengan mengidap narsis, kita menumbuhkan kepercayaan diri, tampil berani dan diterima orang lain. Tentu saja, narsis jangan berlebihan. Narsis yang berlebihan dapat menyebabkan munculnya kesombongan, kebanggaan diri yang berlebihan, dan tentu menyebabkan penyakit hati lainnya. Dengan kata lain, cintai diri pada batas-batas tertentu, jangan menjadikannya kecanduan! Bagaimana pendapat anda, sobat?

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.