Selasa, 27 Juli 2010

Siapa Mau Duduk di Pintu Darurat ?

Mbah Marijan             Foto: Yan Arif

Mungkin Anda pernah kebagian tempat duduk di samping Pintu Darurat di dalam sebuah pesawat? Jika Anda adalah orang yang dipandang sehat, lelaki, dewasa, dan tentu saja setuju dengan permintaan dari awak pesawat untuk duduk di situ, dan kebetulan duduk di situ atau di dekat situ, Anda akan mendapat tugas mulia dalam perjalanan penerbangan. Lalu, Anda akan diberi penjelasan sekitar tugas dan tanggung jawab Anda serta cara-cara menggunakan Pintu Darurat tersebut. Karena demikianlah kira-kira salah satu peraturan keselamatan penerbangan, penumpang wajib turut berpartisipasi dalam penyelamatan keadaan darurat penerbangan, khususnya yang berada dekat Pintu Darurat. Jadi orang yang duduk di dekat Pintu Darurat itu memiliki tugas yang sangat mulia.
Suatu ketika, saat saya pulang dari suatu perjalanan dinas dari Jakarta menuju kampung saya, ada kejadian menarik sehubungan dengan cerita tentang Pintu Darurat di atas. Saat itu saya mendapat seat di baris ke dua setelah Pintu Darurat itu. Artinya, di belakang saya ada baris kursi lainnya di depan baris kursi yang sejajar dengan posisi Pintu Darurat. Sesaat ketika persiapan pesawat akan take off, terdengar suara Pramugari sedikit sibuk mengatur orang-orang yang duduk di situ (saat itu saya kurang memperhatikan persisnya apa saja yang terjadi di belakang punggung saya, karena saya sudah duduk rapi, dan mulai memilih bacaan). Rupanya di baris kursi yang sejajar dengan Pintu Darurat tersebut duduk orang yang tidak sesuai dengan yang dipersyaratkan dalam peraturan keselamatan, sehingga Pramugari yang bertugas meminta mereka pindah dan digantikan oleh orang lain. Karena, sesaat kemudian saya mulai mendengar suara lembut sang Pramugari berbicara dengan orang yang duduk persis di belakang saya, untuk yang ini saya mendengarnya, karena dekat sekali. Pramugari berkata: “Maaf, Bapak, apakah Bapak bersedia pindah ke belakang duduk di dekat Pintu Darurat?” lalu saya mendengar jawaban, “Maaf, yang lain saja mbak”. Secara refleks saya terpaksa menoleh ke belakang, bukan apa-apa, yang membuat saya tertarik, jawaban itu sangat tegas, cukup nyaring dan sedikit aneh di telinga saya, kok ada orang yang menolak ? bahkan atas permintaan Pramugari (yang pasti cantik itu)?. Karena ditolak, dan pas saya memandang wajah Pramugari tadi (sebenarnya pengen tahu reaksi wajah pramugari saat ditolak), eh malah si Pramugari memandang saya dengan sedikit memelas, “Bagaimana kalau Bapak, bersedia pindah ke dekat Pintu Darurat?”. Tanpa berpikir lagi, saya menganggukkan kepala, sambil berkata:”oke!” lalu berdiri dan pamit dengan teman di sebelah saya, kemudian duduk di kursi yang ditunjukkan oleh si Pramugari.

Setelah duduk dan memasang safety belt, saya diberi penjelasan singkat oleh Pramugari tentang tugas dan tanggung jawab saya duduk di situ dan menyerahkan kepada saya buku manual SOP nya untuk dipelajari lebih lanjut. Tidak memakan waktu buat saya untuk mempelajari isi manual tersebut, karena sebelumnya sudah pernah beberapa kali membacanya di penerbangan lain. Setelah selesai semuanya, baru saya menyadari sesuatu yang menarik dari situasi ini.
Saya bertambah heran, ketika saya melihat sekali lagi, ternyata orang yang tadi menolak duduk di kursi yang saya duduki sekarang adalah seseorang yang jauh lebih muda dari saya, dari belakang (karena posisi saya sekarang berada di belakangnya) dapat saya perkirakan orang ini berbadan tegap, berambut cepak, dan masyaallah! Dia berseragam loreng hijau! Artinya, paling tidak orang ini sangat memenuhi kriteria sebagai orang yang seharusnya memiliki kontribusi besar dari suatu keadaan yang memerlukan penyelamatan. Akibat situasi ini, hampir sepanjang jalan penerbangan ini, pikiran saya dipenuhi untuk menjawab satu pertanyaan: Mengapa ada orang yang nampak gagah berani ini bahkan berseragam hijau loreng ini menolak duduk di dekat Pintu Darurat ? bahkan, saking penasarannya hampir saja pertanyaan ini terlontar kepada yang bersangkutan, tapi saya urungkan, juga dengan beberapa alasan. Banyak sekali kemungkinan jawaban yang muncul di kepala saya, mengapa orang ini tidak bersedia memegang tugas mulia ini? Di antara jawaban itu (menurut pikiran saya) adalah:

Mungkin orang ini sedang tidak sehat (sakit tertentu yang tidak nampak oleh orang lain), dan sebenarnya patut dikasihani?
  1. Mungkin tidak memahami maksud yang disampaikan oleh Pramugari?
  2. Mungkin juga dia beranggapan lebih bermanfaat (jika dalam keadaan darurat) dia tidak mengurusi Pintu Darurat?
  3. Mungkin punya phobia terhadap Pintu Darurat?
  4. Oh, mungkin dia keberatan berpisah sementara dengan gadis yang duduk di sebelahnya?
  5. Atau mungkin juga karena memang mentalnya sedang sakit, fisik dan seragamnya saja yang nampak gagah, tetapi mentalnya mirip terong bakar?

Akan ada puluhan bahkan ratusan kemungkinan yang bisa terjadi untuk menjawab pertanyaan itu, hanya yang bersangkutan dan Tuhanlah yang tahu jawabannya, bukan?
Saya jadi teringat dengan Mbah Marijan yang fenomenal. Ketika Merapi dinyatakan waspada ke sekian, orang-orang sekitar untuk radius tertentu dievakuasi oleh regu penyelamat ke tempat yang jauh dari jangkauan bahaya letusan Gunung Merapi. Tapi bagaimana dengan Mbah Marijan, yang bertugas sebagai juru kunci gunung tersebut? Dia menolak dievakuasi, karena ini adalah tanggung jawabnya. Bahkan beliau dengan gagah berani malah naik ke tempat yang lebih tinggi, untuk mendekati si Gunung, dengan harapan bisa bernegosiasi dengan alam, supaya Merapi batal muntah-muntah. Alhamdulillah mbah Marijan sekarang sehat wal-afiat.

Kagagahberanian mbah Marijan bahkan sekarang menjadi icon sebuah merek jamu.
Sekarang ini memang sulit mencari orang-orang yang mau berkorban seperti itu dan mengambil tanggungjawab besar dan berat, meski belum tentu kejadian (yang tentu tidak seorangpun berharap terjadi) keadaan darurat penerbangan menjadi kenyataan. Penampilan luar, seperti fisik dan seragam yang melekat ditubuhnya tidak mampu menutupi keadaan yang sesungguhnya di dalam diri seseorang. Lihatlah seragam mbah Marijan yang menampakkan kebersahajaan, ternyata di dalam tubuhnya menyimpan kekuatan mental yang berbasis keluhuran budi. Sangat bertolak belakang dengan penampilan fisik dari orang yang dalam kasus Pintu Darurat di atas.

Bagaimana pendapat Anda?


6 komentar:

  1. Yang membuat Mbah Marijan bak manusia perkasa adalah keikhlasannya pada pengabdian sbg seorang Marijan dan Kesetiaannya pada keyakinan yg dipegang. Dua variabel kehidupan yg sdh agak langka di jaman sekarang. Sekarang ini banyak org bekerja... bukan karena panggilan jiwa, tetapi karena kepepet, ketimbang menjadi penganguran. Atribut seperti pangkat, titel, gelar, atau seragam yg menempel di dirinya hanyalah stempel untuk minta diakui oleh orang lain yg melihat stempel tersebut.

    BalasHapus
  2. Temannya Marijan27 Juli 2010 16.16

    Saya sambung ya, pak? ....sedangkan diantara orang-orang yg berseragam seperti dicerita itu, diantara mereka (tidak semuanya,sih) hanya nampak gagah dan berani ketika berada dibalik seragamnya, dan berkelompok. Jika dalam kesendirian, dia menjadi pengecut, apalagi kalo tanpa seragam. Ingat juga anak ABG yg suka tawuran, mrk nekat berani, karena berseragam.

    BalasHapus
  3. Wah, Anda menganalogikan dengan anak ABG berseragam yang suka tawuran, bisa jadi begitu, ya?..kalo begitu seragam perlu ditinjau ulang, dong atau diganti dg yg mirip seragam Mbah Marijan?...hehe thx, ya atas komentarnya.

    BalasHapus
  4. Dengan hormat,

    mohon dicantumkan url sumber foto mbah maridjan yg dipakai dalam artikel ini, dgn url http://www.flickr.com/photos/yanrf/504131605/

    terima kasih,

    Salam hangat.

    - Yan Arief

    BalasHapus
  5. @Yan Arief P
    Thanks, mas Yan, atas koreksinya, dan sudah diperbaiki.

    Salam hangat juga.

    BalasHapus

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.