Minggu, 31 Oktober 2010

Antara Kebenaran dan Pembenaran

Ada seorang pemuda, yang baru pulang ke kampung halamannya. Dia membawa sebuah miksroskop yang dibelinya di kota, dengan maksud akan ditunjukkan kepada semua orang di kampungnya, bahwa ada sebuah alat ajaib yang bisa membuat seseorang mengetahui sesuatu yang tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.

Sesampainya di kampung, segera dia mengumpulkan teman-temannya di Pos Kamling desa, menunjukkan dan mengajarkan cara penggunaan mikroskop tersebut untuk melihat objek  atau benda-benda apa saja yang menarik untuk diketahui detailnya hingga ukuran terkecil. Semua temannya senang mendapat kesempatan menggunakan alat tersebut, masing-masing telah mencoba melihat benda-benda kesayangannya untuk dilihat ada apa dibalik benda tersebut. Bunga-bunga, daun, kulit kayu, bahkan mobil-mobilan pun menjadi objek.

Setelah puas bersama teman-temannya, pemuda itu pulang ke rumahnya dengan gembira  bercampur bangga, karena telah dapat membuat teman-temannya takjub, bahkan orang sekampung gembira dengan adanya alat tersebut. Di rumahnya, pemuda itu masih mencoba melihat banyak benda-benda lain untuk diintip dengan mikroskop. Kemudian saatnya waktu makan siang. Eh, dia punya ide brilian: bagaimana kalau sambel pecel kesenangannya dilihat di bawah mikroskop, ada apa ya di sana? lalu, segeralah dia mengambil mikroskop, dan mengambil sesendok sambel pecel kesayangannya tadi lalu diletakkan di bawah mikroskop. Lalu ia mengintip, dan.........praakkkkkkk!!! apa yang terjadi? mikroskop itu dibantingnya ke lantai, dan hancur!

Apa yang sebenarnya terjadi dengan diri pemuda ini? oh, ternyata, ketika ia melihat sampel sambel pecel kesayangannya di bawah mikroskop, dia melihat banyak sekali cacing berukuran mini!cacing-cacing tadi bergerak ke sana kemari di permukaan sambel kesayangan....artinya hidup. Pemuda ini sekarang kesal bukan kepalang, kenapa miksroskop menunjukkan sesuatu yang buruk untuk sesuatu yang disayanginya?

Sahabat, begitulah kira-kira, kalau seseorang tidak siap menerima kebenaran. Dalam pergaulan sehari-hari, kita sering menemukan peristiwa ini. Ada orang yang sulit melihat kebenaran dibalik pendapat orang lain, ketika ia minta pendapat, sebenarnya berharap yang muncul adalah pembenaran atas pendapat atau tindakannya. Jadi kalau pendapat orang lain berusaha menunjukkan keadaan sebaliknya dari yang diharapkannya, segera ia melihat kesalahan dibalik pendapat tersebut. Orang yang salah ini, segera dijauhinya, bahkan mungkin akan dicoret dari daftar sahabat baiknya!
Kita sering terjebak di antara pencarian Kebenaran dan Pembenaran. Kita menyangka sudah mendapatkan kebenaran,  padahal kita baru mencari pembenaran atas pendapat atau tindakan kita.

Bagaimana pendapat Anda?

8 komentar:

  1. kalau Kebenaran itu mutlaq sedangkan pembenaran masih bersifat relatif..

    BalasHapus
  2. memang susah untuk menerima kebenaran yang bukan pendapat kita..kita lebih senang jika pendapat kita yang benar dan tak mau mengakui pendapat lain yang lebih benar..
    semoga kita dibukakan mata hati kita untuk melihat kebenaran dengan jernih..

    BalasHapus
  3. antara kebenaran dan pembenaran sulit u/ dipisahkan saat sekarang. banyak orang menggunakan kata "kebenaran" u/ kepentingan pribadi demi mencapai goalnya, entah apapun motivasinya.

    BalasHapus
  4. @Faril
    Yups, mas Faril. Kebenaran menjadi semu, ketika yang kita hanya mencari pembenaran.

    BalasHapus
  5. @citra
    Yes, Cit. Kalau kita menuruti ego kita, yang kita dapati hanya pembenaran, bukan kebenaran

    BalasHapus
  6. pak Yafiz,, bagaimana tentang kebenaran sifat kita,,,,, soalnya setiap saya tanya teman2 saya karena saya lebih banyak menghabiskan waktu dengan teman daripada orang tua,karena saya kost. Dan mereka semua menjawab saya itu baik dan asyik...padahal menurut saya itu tidak semuanya benar.. nah bagaimana agar saya tahu sifat2 saya untuk perubahan sifat yang lebih baik lagi...?

    BalasHapus

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.