Minggu, 24 Oktober 2010

Renungan dalam Rangka SUMPAH PEMUDA: Entrepreneurship, Langkah Pasti Menurunkan Bendera Kemiskinan dan Pengangguran

 Menurut laporan BPS, jumlah sarjana menganggur tahun 2008: 740.000 orang dan 2009: 900.000 orang, artinya kenaikan sekitar 20%. Jika angka itu ditambah lagi dengan yang non sarjana, maka jumlahnya akan semakin bertambah-tambah. Akurat tidaknya angka pengangguran ini, tidak terlalu penting lagi manakala kita membuka mata, melihat kenyataan, betapa rata-rata setiap 1 kursi lowongan kerja selalu diikuti oleh antrean panjang para pelamar. Pertumbuhan ekonomi yang masih lamban semakin menekan kemampuan daya serap tenaga kerja golongan usia muda ini dalam bersaing, karena konon setiap 1% pertumbuhan ekonomi hanya mampu menyediakan lapangan kerja  bagi  262.000 tenaga kerja secara keseluruhan. Penyebab utamanya adalah kurangnya ekpansi usaha maupun sulitnya terbuka usaha-usaha baru akibat pertumbuhan ekonomi yang belum memadai. Rumus yang paling alami terjadi, pengangguran menyebabkan kemiskinan, dan kemiskinan menciptakan kerawanan sosial.

Menyongsong peringatan Sumpah Pemuda yang dirayakan setiap tanggal 28 Oktober ini, ada baiknya kita merenungkan kembali visi pemuda kita yang heroik ini: berbangsa satu, bertanah air satu, dan berbahasa satu. Kenyataan banyak pemuda kita terpaksa berjuang memenuhi hajat hidupnya di negeri orang dengan penuh derita (banyak berita yang menunjukkan itu), sementara di negeri sendiri, tidak ada jaminan nasibnya menjadi lebih baik? Beratnya perjuangan pemuda kita di masa lalu dalam merebut kemerdekaan tentu tidak bisa disejajarkan dengan derita perjuangan pemuda kita di jaman merdeka ini. Namun, medan perjuangan yang berbeda, harus dihadapi dengan semangat dan jiwa yang berbeda. Tekanan ekonomi dan ketidakmampuan bersaing menjadi cerita tersendiri dalam setiap dada pemuda kita saat ini. Tidak heran, jika kita menyaksikan banyaknya tawuran, antar mahasiswa, antar pelajar, antar kampung, etnis dan sebagainya. Apakah kita boleh beranggapan bahwa sudah terjadi semakin lunturnya semangat heroisme – nasionalis yang dibangun para pendahulu? Tentu tidak ada yang bersedia acungkan jarinya, untuk setuju dengan pendapat itu.

Jika akar permasalahannya sudah jelas: pengangguran, maka tidak lain bangsa ini harus melakukan ‘manuver’. Pemerintah dan semua pihak harus mendorong terbangunnya semangat kejuangan baru bagi para pemuda kita, yaitu perjuangan meraih kebebasan dari ancaman pengangguran dan kemiskinan, bukan hanya dengan mengejar pertumbuhan ekonomi, tetapi juga berupaya membangun ‘manusia’nya. Pembangunan manusia muda yang paling tepat di jaman ini, tidak lain adalah sisi mentalitas dan karakternya. Karakter yang dimaksud adalah karakter atau jiwa kewirausahaan (entrepreneurship). Entrepreneurship harus menjadi medan perjuangan baru bagi pemuda kita, berjuang menciptakan lapangan kerja, berkarya, menciptakan peluang, menngkatan kreativitas dan kemampuan inovasi. Mengubah mindset dari pencari kerja menjadi pencipta kerja, itulah yang harus ditanamkan di setiap dada pemuda kita.

 Salam Entrepreneur!

1 komentar:

  1. terkadang mindset seseorang sudah tertanam sejak kecil,dan ada pula berpendapat mindset terbentuk dari lingkungan....jadi menurut saya,faktor yang terpenting untuk mengubah mindset pemuda kita adalah lingkungan atau keluarga...tentunya selain kemauan keras dari pemuda itu sendiri....

    BalasHapus

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.