Minggu, 28 Maret 2010

Makna Kebahagiaan?


Suatu hari di tengah hujan deras, berjalan sepasang suami isteri. Tangan kanan sang suami memegang erat payung berukuran sedang yang hanya cukup melindungi kepala keduanya dari hujan. Sementara tangan sebelah kirinya memeluk bahu sang isteri, dan sang isteri  membalas dengan tangan kanannya memeluk erat pinggang suaminya. Sedangkan tangan kiri sang isteri memegang erat dua buah helem butut.  Keduanya berjalan perlahan sambil sesekali kaki mereka berusaha menghalau genangan air yang sudah menutupi mata kaki mereka. Perjalanan masih cukup panjang menuju ke rumah mereka, kira-kira setengah jam lagi.
Sambil mencoba menatap wajah suaminya yang sudah berembun karena hujan, namun embun itu tidak cukup menutupi wajah suaminya  yang mulai menunjukkan tanda-tanda penuaan dan tampak letih, sang isteri lalu bersuara:”Bang, seandainya motor kita tidak mogok, tentu kita sudah sampai ke rumah ya, bang?” sang suami, tidak menjawab,  dan tidak juga berani menatap mata sang isteri, tidak sampai hati. “Kapan Bang, motornya diganti dengan yang seperti itu?” si isteri meneruskan kalimatnya  karena tidak dijawab suaminya, sambil menunjuk sebuah motor yang ditumpangi oleh suami-isteri lainnya, yang melintas di samping mereka. Sang suami menarik nafas, sambil pandangannya mengikuti arah yang ditunjuk isteri tercintanya. “Sabarlah dik”, jawab sang suami singkat, berusaha menghentikan keluhan sang isteri.
Di atas jok motor yang masih nampak baru, melintasi sepasang suami isteri pertama tadi, duduk sepasang suami isteri kedua. Mereka basah kuyup, karena mereka tidak memakai jas hujan.  Tetapi mereka masih lebih beruntung, karena tidak lama lagi akan sampai ke rumah, di mana kedua anak mereka sedang menunggu. Tangan sang isteri memeluk erat pinggang suaminya, dan suaminya berkonsentrasi penuh mengendalikan lajunya sepeda motor yang mereka tumpangi. Tiba-tiba si isteri berkata ”Enak ya bang, naik mobil seperti orang itu, meskipun mobil mereka nampak tua tetapi mereka yang di dalamnya tidak basah kuyup seperti kita”  katanya, sambil menunjuk sebuah sedan tua berwarna merah, yang sulit dikenali merek mobilnya. Si abang mencoba melirik ke arah mobil yang ditunjuk isterinya.  “ah, dik, jangan-jangan motor kita ini lebih mahal harganya dibanding mobil mereka” kata si abang membela motor kesayangannya. “Kalau begitu kenapa tidak  dijual aja motor kita bang, lalu kita beli mobil seperti mereka?”. Si abang tidak menjawab, lalu ”supaya kita tidak kehujanan seperti ini lagi bang, nih sekarang kita basah kuyup, bisa-bisa sampai di rumah kita kena flu!” lanjut isterinya, kali ini volume suaranya agak lebih keras.
Di dalam sedan merah tua, terdapat suami isteri lainnya, mereka melintasi sepasang suami-isteri  yang bersepeda motor tadi. Si isteri sibuk membantu suaminya menyapu kaca depan mobil mereka yang berkabut akibat hujan yang mengguyur deras permukaan kaca depan sebelah luar, karena mobil itu tidak dilengkapi dengan AC. Sambil terus menyapu dengan handuk kecil, yang memang sudah tersedia untuk itu, si isteri berkata:”Bang, setiap kali turun hujan, aku selau terganggu dengan persoalan kaca yang berkabut. Sedangkan sebaliknya kalau hari panas, kita berurusan dengan keringat dan sesaknya bau asap knalpot yang menembus kaca jendela yang terbuka. Kapan dong, persoalan ini berhenti menerpa? Belum ditambah dengan persoalan lain, tidak jarang kita mogok di tengah perjalanan. Kapan bang kita ganti mobil?” kata isterinya. Si abang diam seribu basa. Mulutnya terkunci, dalam hati ia membenarkan apa yang dikatakan isterinya. Tapi bagaimana mungkin beli yang baru? Sedangkan yang ini saja, kreditnya belum lunas.  Tiba-tiba lamunan sang suami terpecah ketika mendengar suara klakson mobil yang ada di belakangnya. Rupanya mobil tadi tidak sabar berada di belakang sedan merah tua yang berjalan perlahan, karena pandangan yang tidak jelas. Lalu ia meminggirkan mobilnya ke arah kiri jalan, memberi jalan bagi mobil di belakang agar bisa menyalip mereka. Lalu menyaliplah mobil di belakang tadi, mendahului sedan merah itu. Rupanya mobil penyalip ini mobil baru, sebuah sedan merek terkenal, terutama karena kemewahan dan mahalnya. Lalu si isteri hampir berteriak ”tuh bang, enak ya mobil seperti itu! Melaju kencang di segala cuaca……alangkah bahagianya bang, bila aku dibelikan yang seperti itu. Abang pasti akan lancar ke kantor, dan pulang cepat, gak pake acara mogok segala…..ayo bang berusaha dong, gimana kek caranya, agar bisa beli mobil seperti itu!!!”………………..
Di dalam sedan mewah itu, di jok belakang, duduk seorang pria berdasi  dengan setumpuk berkas di sampingnya. Dia hanya ditemani seorang supir yang sedang asyik berkonsentrasi di belakang setir, berusaha melintas dan menyalip mobil-mobil di depannya. Pria berdasi ini menoleh ke kiri, dilihatnya sepasang suami isteri asyik berpelukan mesra di bawah payung, di bawah guyuran hujan yang semakin deras.  Dia menghela nafas dalam, alangkah bahagianya mereka, apalagi berpelukan mesra di bawah guyuran hujan seperti ini, pikirnya. Lalu dia melihat lagi sepasang suami isteri yang bersepedamotor, basah kuyup, mereka duduk merapat, di tengah hujan seperti ini mereka masih bisa berdialog, alangkah mesranya mereka, pikirnya. Lalu melintasi lagi sedan merah tua, remang-remang dilihatnya juga sepasang suami isteri. Si isteri membantu suaminya melap kaca mobil, sedang suaminya tetap berkonsentrasi pada setirnya. Alangkah nikmatnya, mereka bekerjasama menghalau gangguan hujan.  Sedang aku di sini, sendiri kesepian, karena isteri dan anak-anakku sedang liburan di luar negeri. Sedangkan aku berjuang sendiri, menghadapi pemeriksaan KPK……………………..oh nasib!!!!!
Sahabat, apa arti dan di mana sebenarnya letak bahagia itu?....................

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.