Selasa, 13 April 2010

Menangkap Makna


Ada perbedaan yang besar antara alam pikir dengan alam rasa. Ada jarak yang cukup lebar antara alam indrawi dengan alam maknawi. Kita memiliki anugerah pikir dan rasa, yang dengan keduanya kita dapat menciptakan karya dan inovasi yang indah dan bermakna.
Alam pikir adalah alam cipta, yang dengannya kita mengatur berbagai alur logika yang bertebaran. Dengan alam pikir kita menyatukan berbagai ide menjadi sebuah karya demi memenuhi ruang kebutuhan indrawi. Alam pikir mengandung lalulintas yang senantiasa sibuk dan ramai.

Ketika anda sedang duduk di sebuah bangku taman, ditemani secangkir kopi panas dan berbatang-batang rokok. Entah sudah berapa teguk kopi anda hirup, berapa batang rokok sudah anda hisap ketika anda duduk di situ, orang lain hanya melihat betapa anda sedang santai menikmati suasana di taman itu. Tetapi andalah yang paling tahu, betapa sibuknya dan ramainya pikiran anda. Betapa padatnya lalu lintas berpikir anda hari itu, bahkan cenderung macet. Andalah yang paling tahu, betapa terbatasnya logika ‘aku’ anda.

Sahabat, alam pikir selalu bergejolak dan senantiasa bergerak menanggapi sinyal-sinyal indrawi. Indrawi memberi pesan kepada alam pikir, misalnya, kita harus makan karena perut sudah lapar. Alam pikir bereaksi, kita butuh uang untuk membeli makan. Kalau kita sudah makan, maka kita bisa bekerja. Kalau kita bekerja kita dapat uang. Begitulah seterusnya. Lalu kita terjebak dalam hiruk pikuk alam pikiran itu. Hidup kita terasa begitu sempit akibat padatnya lalulintas alam pikir, dan akan semakin sempit jika lalulintas telah macet. Lalu apa jadinya? Apa akibatnya?




Sesungguhnya ada alam maknawi yang selalu siap memberi keseimbangan dan jalan keluar bagi kemacetan lalulintas alam pikir. Alam maknawi siap menolong kita keluar dari keputusasaan menghadapi tuntutan indrawi. Alam maknawi yang maha luas, tak bertepi memberikan ruang sebesar-besarnya bagi kebutuhan kita melampaui tuntutan indrawi. Uniknya, kebalikan dari alam indrawi, alam maknawi tidak pernah menuntut, ia justeru memberi.

Lalu kenapa kita tidak berdamai saja dengan alam indrawi lalu menengok lebih banyak pada ketersediaan alam maknawi? Sayangnya, karena alam pikir sudah telanjur padat dengan lalulintas tuntutan indrawi, kita terjebak dalam kepadatan logika, alam maknawi tidak lagi terjangkau oleh alam pikir. Tetapi janganlah khawatir, masih ada alam rasa. Ya, alam rasalah yang leluasa berkomunikasi dengan alam maknawi, alam rasalah yang memiliki bahasa dan gelombang yang sama dengan alam maknawi. Dengan alam rasa kita dapat menangkap lebih banyak makna. Betapa indahnya sebuah karya, yang dihasilkan dari paduan antara pikir dan rasa. Sebuah karya besar seorang maestro, berasal dari sumber-sumber alam pikir dan rasa, yang sanggup menanggapi lapar dan dahaganya indrawi , yang dipenuhi dengan makna. Betapa indahnya hidup ini, jika dipenuhi oleh makna yang telah kita tangkap dan nikmati.

Begitulah Tuhan menganugerahi manusia dengan segala kelengkapannya, agar hidup manusia selaras dengan tujuan penciptaannya: mengabdi kepada Nya.

8 April 2010

2 komentar:

  1. Memang betul, antara diam dgn 'diam' ada perbedaan... diam dgn pikiran menerawang tak tentu arah, dgn 'diam' terfokus pd suatu titik... Ad bagian dr kehidupan dimana qta hrs 'diam' spy kembali kpd keutuhan diri... apalagi di tengah hiruk pikuk suasana kota besar yg memacu org utk konsumtif dll... Taapppiiii... tiap qta jga pasti prnah diam dgn pikiran menerawang jauh entah kemana ... contohnya, maaf, ketika qta BAB... wehehe

    BalasHapus
  2. Thx, Oyah. Nice your comment. Di balik makna tersimpan ilmu yang luas, dalam diam (merenungi)kita dapat menangkap hikmah. Ok, keep coming and comment!

    BalasHapus

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.