Minggu, 18 April 2010

Yan Hui dan Jabatannya


Yan Hui adalah murid kesayangan Confusius yang suka belajar, sifatnya baik.

Pada suatu hari ketika Yan Hui sedang bertugas, dia melihat sebuah toko kain sedang dikerumuni banyak orang. Dia mendekat dan mendapati pembeli dan penjual kain sedang berdebat.

Pembeli berteriak: “3×8 = 23, kenapa kamu bilang 24?”
Yan Hui mendekati pembeli kain dan berkata: “Sobat, 3×8 = 24, tidak usah diperdebatkan lagi”.
Pembeli kain tidak senang lalu menunjuk hidung Yan Hui dan berkata: “Siapa minta pendapatmu?Kalaupun mau minta pendapat mesti minta ke Confusius. Benar atau salah Confusius yang berhak mengatakan”.

Yan Hui: “Baik, jika Confusius bilang kamu salah, bagaimana?”
Pembeli kain: “Kalau Confusius bilang saya salah, kepalaku aku potong untukmu. Kalau kamu yang salah, bagaimana?”

Yan Hui: “Kalau saya yang salah, jabatanku untukmu”.
Keduanya sepakat untuk bertaruh, lalu pergi menemui Confusius.
Setelah Confusius tahu duduk persoalannya, Confusius berkata kepada Yan Hui sambil tertawa: “3×8 = 23. Yan Hui, kamu kalah. Serahkan jabatanmu kepada dia.”

Selamanya Yan Hui tidak akan berdebat dengan gurunya. Ketika mendengar Confusius menyatakan dia salah, diturunkannya topinya lalu dia berikan kepada pembeli kain. Orang itu mengambil topi Yan Hui dan berlalu dengan puas.

Walaupun Yan Hui menerima penilaian Confusius tapi hatinya tidak sependapat. Dia merasa Confusius sudah tua dan pikun sehingga dia tidak mau lagi belajar darinya.

Yan Hui minta cuti dengan alasan urusan keluarga. Confusius tahu isi hati Yan Hui dan memberi ijin cuti padanya.
Sebelum berangkat, Yan Hui berpamitan dan Confusius memintanya cepat kembali setelah urusannya selesai, lalu memberi dua nasehat kepeda Yan Hui: “Bila hujan lebat, janganlah berteduh di bawah pohon. Dan jangan membunuh.”

Yan Hui berkata, “baiklah“ lalu ia berangkat.

Di tengah perjalanan tiba2 angin kencang disertai petir, kelihatannya sudah akan turun hujan lebat. Yan Hui ingin berlindung di bawah pohon tapi tiba2 ingat nasehat Confusius dan dalam hati berpikir untuk menuruti kata gurunya sekali lagi. Dia meninggalkan pohon itu. Belum lama dia pergi, petir menyambar dan pohon itu hancur. Yan Hui terkejut, nasehat gurunya yang pertama sudah terbukti.
Apakah saya akan membunuh orang? Yan Hui tiba dirumahnya sudah larut malam dan tidak ingin mengganggu tidur istrinya. Dia perlahan membuka kamarnya. Sesampai di depan ranjang, dia meraba dan mendapati ada seseorang di sisi kiri ranjang dan seorang lagi di sisi kanan. Dia sangat marah, dan menghunus pedangnya. Pada saat mau menghujamkan pedangnya, dia ingat lagi nasehat Confusius, jangan membunuh.


Dia lalu menyalakan lilin dan ternyata yang tidur di samping istrinya adalah adik istrinya.

Pada keesokan harinya, Yan Hui kembali ke Confusius, berlutut dan berkata: “Guru, bagaimana guru tahu apa yang akan terjadi?” Confusius berkata: “Kemarin hari sangatlah panas, diperkirakan akan turun hujan petir, makanya guru mengingatkanmu untuk tidak berlindung di bawah pohon.Kamu kemarin pergi dengan amarah dan membawa pedang, maka guru mengingatkanmu agar jangan membunuh”.

Yan Hui berkata: “Guru, perkiraanmu hebat sekali, murid sangatlah kagum.” Confusius bilang: “Aku tahu kamu minta cuti bukanlah karena urusan keluarga. Kamu tidak ingin belajar lagi dariku. Cobalah kamu pikir. Kemarin guru bilang 3×8=23 adalah benar, kamu kalah dan kehilangan jabatanmu. Tapi jikalau guru bilang 3×8=24 adalah benar, si pembeli kainlah yang kalah dan itu berarti akan hilang 1 nyawa. Menurutmu, apakah jabatanmu lebih penting atau kehilangan 1 nyawa yang lebih penting?”
Yan Hui sadar akan kesalahannya dan berkata : “Guru mementingkan yang lebih utama, murid malah berpikir guru sudah tua dan pikun.Murid benar2 malu.”
Sejak itu, kemanapun Confusius pergi Yan Hui selalu mengikutinya.
Sumber: Anonim

Cerita di atas mengingatkan kita bahwa kita seringkali berspekulasi tentang apa yang menurut kita mengandung kebenaran. Dalam keadaan tertentu, kebenaran menjadi bias, karena adanya pertentangan antara satu dengan lainnya.
  1. Dalam kondisi seperti ini seorang pemimpin harus mengambil keputusan yang paling tepat, dengan mempertimbangkan dampak dari keputusan itu. Dan tidak jarang pemimpin harus mengambil keputusan yang tidak popular, dalam arti menuruti pandangan orang banyak.
  2. Kita harus bersedia berkorban untuk kepentingan yang lebih besar yang dimiliki orang lain, kita harus mengalah untuk memperoleh kemenangan yang lebih besar.
  3. Bagaimanapun juga kebahagiaan tidak akan dapat kita peroleh dari sebuah kemenangan yang mengorbankan terlalu besar kebahagiaan orang lain.





2 komentar:

  1. nambah pengetahuan lagi buat aq, terima kasih kawan, coment dan folow jika berkenan

    BalasHapus
  2. Terima kasih Rzky, aku juga akan follow Anda.

    BalasHapus

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.