Selasa, 22 Juni 2010

Dialog Dengan Penjual Bunga

Betapa indahnya hidup ini, jika kita mengukur keberhasilan berdasarkan misi yang diwujudkan dalam nilai. Bukankah hanya nilai 'kualitas hidup' yang akan dibawa menuju perjalanan abadi: alam kematian?.....
Seorang ibu tua, sekitar 60 tahun usianya, sebut saja namanya nenek Ijah. Dia adalah seorang ibu dari 5 orang anak, dengan 13 orang cucu. Pekerjaan ibu Ijah adalah penjual bunga, di pinggiran jalan Pasar Ujung Murung, Banjarmasin, pada malam hari.
Berapakah omset penjualan dan keuntungan Ibu itu setiap malamnya? Dengan tersenyum lebar Ibu Ijah menjawab: “Alhamdulillah, bisa untuk makan sehari dan membeli sedikit keperluan lainnya”. Apakah kesehatan ibu tidak terganggu dengan berjualan seperti ini, di tepi jalan, dengan angin malam yang kadang tidak ramah? “Alhamdulillah, paling sesekali pilek.” demikian ia menjawab santai.
Kenapa ibu tidak tinggal saja dengan anak-anak, sambil menemani cucu? Ibu Ijah, dengan membetulkan letak duduknya, dia mulai serius menjawab:”Saya memang tinggal sendiri di rumah, karena suami sudah tiada. Sedangkan anak-anak saya dan cucu-cucu saya mereka hidup rukun dan bahagia. Saya sudah berhasil mengantarkan mereka menuju masa depan mereka.” “sesekali saya menemui mereka secara bergiliran, terkadang juga mengundang mereka ke rumah saya. Mereka memang sebelumnya melarang saya berjualan seperti ini, karena sebenarnya sanggup menopang hidup saya. Tapi saya tidak mau. Saya sudah cukup bahagia melihat mereka rukun dan bahagia, tetapi saya akan lebih bahagia jika bisa berbuat sesuatu bagi orang lain, seperti orang-orang yang memerlukan bunga ini. Pembeli bunga saya umumnya adalah orang-orang yang keluarganya sedang berduka, kematian salah satu anggota keluarganya. Setiap saat saya merasa bersyukur, dapat meringankan orang-orang yang berduka itu, dari susahnya mencari bunga. Dan setiap saat pula saya ingat akan kematian yang akan menjemput saya .”
Betapa indahnya hidup bu Ijah. Betapa indahnya hidup ini, jika kita mengukur keberhasilan berdasarkan misi yang diwujudkan dalam nilai. Bukankah hanya nilai 'kualitas hidup' yang akan dibawa menuju perjalanan abadi: alam kematian?.....

1 komentar:

  1. Luar biasa sosok seperti ibu Ijah ini. Dalam hidupnya dia memberikan begitu banyak kebahagiaan pada orang lain. Dan dia tentu bahagia bisa memberikan kebahagiaan - kebahagiaan tersebut. Semoga saya bisa seperti ibu Ijah ini, yang bisa memberi banyak kebahagiaan pada orang lain. Amin..

    BalasHapus

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.