Senin, 16 Agustus 2010

Citra Diri Anda = Cara Menelepon Anda

Pernahkah Anda alami, saat dalam sebuah diskusi kecil dengan seseorang, dan Anda sedang berusaha menjawab pertanyaan, tetapi tiba-tiba si penanya malah pamit memutus pembicaraan, karena harus menerima telpon? Menjengkelkan bukan? Masih mending kalau yang bersangkutan masih punya sedikit kesopanan: pamit dan minta maaf, tetapi jika tanpa ba-bi-bu langsung angkat telpon, seolah-olah Anda tidak ada? Bagaimanakah perasaan Anda ketika itu?
Hal ini sering kita alami, atau bahkan mungkin kita pernah menjadi pelakunya? Betapa banyak di antara kita, dewasa ini berkat kecanggihan teknologi komunikasi yang bernama telepon genggam (HP) telah meninggalkan tatakrama, etika, sopan santun, atau apalah namanya, yang membuat orang lain merasa tidak dihargai, bahkan merasa tidak di ‘orang’ kan. Teknologi informasi atau komunikasi memang banyak sekali menolong manusia dalam mengatasi hambatan komunikasi, kemudahan pemenuhan kebutuhan informasi, serta keuntungan lainnya. Tetapi banyak juga mengakibatkan nilai-nilai moral dan manusiawi kita terdegradasi akibat kecanggihannya. Tetapi layakkah kita menyalahkan teknologi ini? Ibarat sebuah pisau belati, yang banyak menolong ibu-ibu di dapur, tetapi sesekali juga bisa melukai orang, bahkan bisa digunakan menodong atau menjadi alat kekerasan lainnya. Pisau tentu tidak bersalah, sesuai tujuan penciptaannya, dia sangat bermanfaat. Tetapi akan menjadi ancaman, ketika disalahgunakan oleh manusia. 

Akhirnya kita berkesimpulan sebenarnya kebaikan dan keburukan sebuah teknologi tergantung pada manusia yang menggunakannya. Semua pasti setuju. Manusia sendirilah yang perlu mengoreksi dirinya sendiri apakah telah semakin melupakan nilai-nilainya sendiri. 

Dalam hal bertelepon ini, banyak kejadian yang membuat kita tidak nyaman, di antaranya sering saya alami seperti ini: 
  1. Saat sedang menikmati makan (rejeki dari Tuhan), tiba-tiba telepon berdering. Ditolak, berdering lagi. Diangkat ternyata bukan hal penting. Padahal, sudah mengurangi selera makan kita, bahkan mengganggu kenikmatan rekan di sebelah kita (saat makan bersama). Hal begini juga biasa terjadi ketika sedang beristirahat (tidur). Telepon tetap dihidupkan pada saat-saat seperti itu, tentu maksudnya agar tetap tersambung dengan informasi darurat saja. Jika ini terjadi dan Andalah penelepon itu, maka ‘nilai’ diri Anda sebenarnya telah jatuh, bisa dicap sebagai orang tak tahu diri, tidak santun, bahkan kurang ajar. 
  2. Di luar jam kritis seperti di atas tadi, pernah juga saya alami telepon saya berdering berkali-kali, padahal saya tidak bisa mengangkatnya karena sedang menyetir, dan belum punya tempat yang tepat untuk berhenti. Orang yang meredial sampai berkali-kali seperti ini, menunjukkan dirinya adalah orang yang arogan, sok kuasa, dan yang jelas tidak punya etika. Saya termasuk yang sangat tidak setuju dengan orang yang sedang menyetir sambil menelepon. Karena, menyetir sambil menelepon juga menunjukkan orang yang tidak peduli terhadap orang lain, mengancam keselamatan diri sendiri dan pengguna jalan lainnya. 
  3. Saya juga pernah menerima persepsi negatif dari teman, bahkan saudara sendiri, gara-gara telepon saya mati. Ketika sipenelepon menghubungi telepon saya memang tidak aktif. Seandainya si penelepon berpikir positif, maka persepsi tadi tidak perlu terjadi. Telepon mati hanya ada dua kemungkinan: disengaja atau tidak disengaja. Biasanya saya mematikan telepon dengan sengaja ketika: 
  • Sedang berada di ruang rapat, seminar atau sedang mengajar 
  • Sedang menjalankan sholat atau berada di dalam ruang yang tidak boleh menghidupkan HP seperti, di ruang perawatan medis, di dalam pesawat atau lainnya. 
Nah, adakalanya memang setelah mematikan telepon di situasi di atas tadi, saya terus kelupaan menghidupkannya kembali. Tetapi yang sering terjadi telepon mati berkepanjangan adalah akibat kehabisan strum, karena baterainya drop. 

Sayangnya, sebagian kita sudah sangat berkurang rasa toleransi terhadap sesama, sehingga tidak perlu berpikir tentang situasi-situasi seperti tadi yang mungkin dialami oleh orang yang akan kita hubungi. Sehingga, mudah saja menganggap atau memvonis “dia memang sengaja tidak mau menerima telepon saya!”. Padahal situasi-situasi seperti itu juga pasti pernah dialaminya. Kecuali kalau memang yang bersangkutan tidak cukup punya sopan santun, sehingga terbiasa menghidupkan HP nya di segala keadaan, dan baterainya tergolong superextended! 

Nah, agar Anda tetap punya nilai di mata orang lain, saya punya tips sederhana berikut: 

  1. Tips ini berlaku hanya bagi Anda yang bisa membedakan antara ciri-ciri telepon yang tidak tersambung, sedang sibuk, atau memang ditolak. Jika tidak bisa membedakan, alangkah gapteknya Anda? 
  2. Sebelum menelepon, sebaiknya lihat jam tangan Anda terlebih dulu, kira-kira sekarang apakah saat yang pantas untuk menelepon. Orang cerdas tentu tahu jam-jam kritis seperti makan siang atau jam istirahat (tidur). 
  3. Ketika Anda memutuskan untuk menelepon (setelah pertimbangan jam kritis tadi), dan sepertinya telepon Anda ditolak, sebaiknya jangan langsung diulangi atau diredial. Bayangkan saja sebuah alasan positif mengapa telepon ditolak. Sebaiknya ulangi lagi setelah beberapa saat (misal setelah 30 menit). Jika masih ditolak juga, sebaiknya Anda kirim SMS, sebutkan maksud telepon atau berita yang ingin disampaikan, dan jangan lupa diakhiri dengan menyebut nama Anda. Menyebut nama ini juga bagian penting, terutama jika Anda tidak yakin nomor dan nama Anda diketahui oleh sipenerima. Seseorang bisa saja menganggap Anda sombong, sok terkenal, sehingga tidak perlu menyebut nama? 
  4. Ketika Anda sedang berbicara dengan orang lain, apalagi sedang mendengarkan lawan bicara Anda sedang berbicara, sebaiknya tidak menerima telepon. Jika ada telepon masuk, tolak saja. Biarkan pembicaraan Anda selesai, atau sampai lawan bicara Anda menyelesaikan pembicaraannya. Setelah selesai, baru kemudian Anda permisi untuk menelepon balik ke nomor yang Anda tolak tadi, jangan lupa menyingkirlah agak lebih jauh dari teman bicara Anda tadi. Kadang-kadang alasan tidak mau menelepon balik, sangat sepele: rugi pulsa! (tanyakan ke diri Anda: berapa perbandingan antara harga pulsa dengan harga diri?). Citra diri Anda ditentukan oleh cara Anda berkomunikasi. 

Bagaimana pendapat Anda?

1 komentar:

  1. Ada pepatah: Orang cerdas terlihat dari jawabannya, Orang bijak terlihat dari pertanyaannya. Begitulah kira-kira, cara berkomunikasi seseorang menunjukkan citra dirinya. Saat ini kemampuan berkomunikasi menjadi segalanya dalam menunjang kesuksesan seseorang, begitu pula sebaliknya. Termasuk berkomunikasi lewat telepon.

    BalasHapus

Komentar Anda sangat berguna bagi 'kemaslahatan' blog ini.Terima kasih atas partisipasinya.